Resensi: Siapa Yang Ditenung, Siapa Yang Menenung?
Tugas 2 Resensi
Nama: Angela Maheswari Lintang Calista
Kelas/No absen: XI POLA 2/1
|
Siapa Yang Ditenung, Siapa Yang
Menenung? |
||
|
|
Judul buku: Tenung Penulis: Dimas Tri Adityo dan Risa Saraswati Penerbit: Bukune Tanggal terbit: 1 Januari 2019 Jumlah halaman: 200 halaman Ukuran: 14 x 20 cm Kota terbit: Jakarta Selatan ISBN: 9786022203025 |
|
|
|
Risa Saraswati dan Dimas Tri Adityo merupakan pasangan yang sudah tidak asing kita dengar. Keduanya merupakan seorang penulis sekaligus penyanyi yang dikenal memiliki kemampuan supranatural dan mampu berkomunikasi dengan makhluk-makhluk gaib di sekitarnya. Menyukai hal-hal yang mistis, keduanya mempunyai proyek dengan berlatar misteri pula, yaitu “Jurnal Risa” yang merupakan proyek Risa, dan “Nightmare Side” yang merupakan proyek Dimas. Kedua proyek tersebut membuat mereka sangat cocok dengan hal-hal yang misterius. Kini, nama mereka tengah naik daun setelah menuliskan buku novel dengan judul Tenung sebagai sebuah persembahan atas pernikahan mereka. Sama- sama berlatar sebagai penulis cerita misteri, dalam buku ini mereka mengemas novel Tenung dengan penuh teka-teki menakjubkan. |
|
|
|
Novel ini menceritakan kedua tokoh yang bernama Andira Kusuma Dewi dan Rahandi Syafial dengan sudut pandang Risa sebagai Andira, dan Dimas sebagai Fial. Kedua tokoh ini memiliki hubungan yang kuat di dalamnya karena pertemuan yang membuat mereka menjadi akrab, keakrabannya ini terjadi melalui surat menyurat diantara mereka. Andira merupakan seorang gadis remaja bungsu yang memiliki tiga orang kakak yang bernama Ara, Ari, dan Aru yang masing-masing dari mereka memiliki wajah yang berbeda dan bisa dikatakan seperti tidak ada ikatan kemiripan dalam wajahnya. Hal tersebut terjadi karena ia mempunyai seorang ibu yang selalu bergonta-ganti pasangan pada masa mudanya, sehingga menyebabkan saudara-saudaranya mempunyai wajah yang berbeda yaitu Arab, Cina, dan Inggris. Suatu ketika ibunya jatuh sakit sehingga Andira yang merawat dan mengurusinya, tetapi kerja kerasnya itu tak pernah dianggap ibunya. Karena itulah Andira hanya ingin ibunya mati karena dia muak dengan ibunya. Setiap hari, ia juga kerap menerima gunjingan yang mengganggap ibunya merupakan “perempuan lonte” dikarenakan ibu Andira tidak pernah |
|
|
|
bertemu dengan suaminya, bahkan nama, tempat tinggal, hingga raut wajahnya pun tidak pernah terlihat. Suatu hari, Andira bertemu dengan seorang laki-laki yang menurutnya memiliki paras yang elok dan rupawan. Ia pun mengajak berkenalan hingga keduanya sama-sama akrab dengan pertemuan keduanya. Lelaki itu bernama Rahandi Syafial yang ia panggil Fial. Hari itu,
Andira mendapatkan alamat Fial lewat sebuah majalah yang didapat dari tukang loak dekat SMAnya membuat
Andira ingin sekali menyurati Fial untuk
saling bercengkrama, karena pertemuannya dengan dia sangat singkat sehingga perlu saling mengobrol agar
dapat saling akrab. Tepat pada tanggal 8 Januari
1994, Andira pertama kali mengirimkan sebuah surat kepada Fial yang berisikan keluh kesah hidupnya yang
pelik. Rahandi syafial baru pertama kali mendapatkan surat yang menceritakan tentang keluarga dari seorang Andira
yang membenci gaya hidup ibunya. Fial merasakan ada kecocokan
antaranya dirinya dengan Andira.
Fial pun membalas surat dari Andira tersebut dan ia menceritakan keluarganya pula, yaitu ia bercerita jika ia
merupakan anak bungsu dan memiliki satu kakak perempuan. Ia menambahkan juga jika ia dahulu bukan merupakan anak yang diinginkan orang tuanya serta lahir saat kondisi ekonomi yang sedang terpuruk. Di akhir suratnya, ia juga menuliskan sebuah pertanyaan apakah ibunya merupakan orang yang terkena “tenung”. Surat demi surat pun mengalir, mereka saling berbalas surat, saling berbagi seluk beluk hidup, hingga tanpa disadari ada seutas benang merah yang mengikat kisah mereka berdua. Berhubungan, layaknya 2 kutub magnet yang berbeda, mereka saling terikat dan terkesan tarik menarik. Perspektif buruk diantara kedua keluarga mereka kini berhamburan dan seperti sebuah misi. Semua
surat-surat yang hilir mudik bagaikan satu kesatuan yang utuh dan memiliki makna dan arti di dalamnya.
Hingga berujung cerita, terdapat sebuah kejutan
yang mencengangkan terkait dengan keduanya jika Fial itu ternyata adalah ayah dari Andira. Fial memalsukan
namanya agar bisa dekat dengan Andira
yang merupakan anaknya. Andira pun tidak menduganya bahwa Fial adalah ayahnya yang tidak lama ini
memberi semangat dan hidup bagi Andira yang mengurus keluarganya. |
|
|
Buku ini pada awalnya
seperti menyimpulkan mengenai kisah perjalanan cinta
dari penulis, namun setelah beberapa
halaman dibaca ternyata semakin mendalam
dan menarik setiap detailnya. “Tenung” disini menyangkut hal yang mistis dan berkaitan mengenai kisah
cinta dan berbalut konflik keluarga dengan
cara penulisan yang unik. Alur cerita yang dibuat terkesan mudah
dinikmati dan cepat diselesaikan
hanya dalam beberapa jam saja karena buku yang cenderung tidak terlalu tebal. Walaupun isinya
tipis dan hanya berisi 200 halaman saja, namun
ketegangan dan misteri yang penuh tanda tanya sangat mendominasi di setiap halamannya. Tidak hanya dari segi
alur saja, konsep buku disini sangat unik
yaitu berisikan surat-surat dari dua orang yang tidak saling kenal yang akhirnya akrab. |
|
|
Di sanalah yang
menjadikan salah satu kelebihan buku ini karena tahap-tahap dalam penyelesaian masalah melalui
surat-surat diselesaikan dengan perlahan dengan
mulai menjawab satu per satu pertanyaan dari tanda tanya besar tentang kehidupan kedua orang ini. Dari segi
fisik, sampul buku yang digunakan cukup menarik,
huruf di dalamnya terlihat jelas, kualitas cetakan juga rapi. Bahasa
yang digunakan pun juga mudah dipahami. Tak hanya berisikan perjalanan sebuah alur masalah saja, buku ini juga
mengandung makna yang dapat diambil yaitu
bahwa seburuk-buruknya orang tua kita, mereka pasti sayang dan peduli kepadamu, maka dari itu janganlah kamu
menjelek-jelekkan orang tuamu, karena
mereka sebenarnya sayang
dan cinta kepadamu. |
|
|
Sebuah karya
pasti memiliki suatu kekurangan yang ada. Di dalam buku ini dapat dilihat dari sisi tampilan atau
kemasannya jika buku ini dicetak menggunakan
kertas yang buram sehingga dapat membuat pembaca merasa kurang menarik untuk membaca di setiap
halamannya karena kertas yang digunakan
kurang membuat mata menjadi bersemangat dalam membaca. Tak hanya kertas saja, namun pemberian
gambar pada beberapa halamannya juga terlihat
kurang jelas, sehingga pembaca mungkin kurang dapat melihat dengan jelas apa yang menjadi ilustrasi pada
isi ceritanya. Dalam segi bahasa memang mudah
untuk dipahami, namun ada satu kata yang terkesan kurang baik, yaitu kata “lonte” yang mungkin dapat
diubah menjadi bahasa
yang lebih sesuai
untuk digunakan. |
|
|
Menarik sekali bukan gambaran terkait novel “Tenung” karya Risa dan Dimas ini. Akan lebih menarik pula jika kalian membaca langsung novelnya karena akan tergambarkan dengan jelas setiap alur yang ditampilkan. Selain isi dalam novel ini yang menarik, kalian dapat mengambil pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari juga. Oleh karena itu, kalian sebaiknya membeli buku ini. Selain harganya yang terjangkau, yaitu dibawah Rp 100.000, kalian juga tidak perlu membutuhkan waktu yang lama dalam membaca, karena halaman yang ada di dalamnya cenderung sedikit dan pasti akan cepat dalam menyelesaikan satu buku. |


Komentar
Posting Komentar