Resensi: Kim Ji-Yeong, Perempuan yang Lahir dalam Lingkaran Patriarki

 

Kim Ji-Yeong, Perempuan yang Hidup dalam Lingkaran Patriarki

 



  Penulis: Cho Nam Joo

Alih Bahasa: Lingliana

Editor: Juliana Tan

Penyelaras Aksara: Mery Riansyah

Ilustrator: Bella Ansori

Tahun Terbitan Pertama (bahasa Indonesia): 2019

Judul buku: Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

Jumlah Halaman: 192


  

 

 Cho Nam Joo merupakan mantan penulis naskah televisi yang sekarang berprofesi sebagai penulis novel yang sukses di Korea Selatan. Berkat novel ini, ia berhasil masuk nominasi ajang penghargaan National Book Award. Terbitnya karya novel ketiganya ini, menjadikan novel yang terbit pada tahun 2016 tersebut kontroversial di negaranya. Bagaimana tidak, feminisme menjadi salah satu topik sensitif di negara tersebut. 

 Salah satu member grup wanita yang terkenal, Irene Red Velvet mendapatkan banyak kebencian dari orang-orang karena membaca novel ini. Banyak yang menganggap bahwa novel Kim Ji-Yeong menjadi salah satu pelopor gerakan emansipasi wanita di Korea Selatan karena, mengangkat isu misogini dan patriarki yang masih lekat pada kehidupan masyarakat di sana.

 Cho Nam Joo sendiri berkata bahwa ia menulis cerita ini karena rasa prihatinnya pada wanita dan berdasarkan pengalaman pribadinya sebagai wanita sekaligus istri yang harus merelakan karirnya untuk mengurus rumah tangga.

 

    

 

 

 Cerita ini dimulai dengan Kim Jiyeong yang berperilaku aneh, terkadang ia seperti sedang menirukan orang lain namun, tidak ada ekspresi bercanda terlukis pada wajahnya. Lalu setelah ia sudah menjadi Kim Ji-yeong seperti biasanya ia tidak ingat apa yang sudah ia lakukan selama menirukan orang lain. Hal ini disadari oleh suaminya, Jeong Daehyeon.


Lalu diceritakanlah masa lalu Kim Jiyeong yang hidup di lingkungan di mana situasi dan pemikiran orang-orang memberatkan wanita. Beberapa kejadian patriarki diceritakan dalam novel karya Cho Nam Joo tersebut.

Ibu Kim Jiyeong memiliki tiga anak, dua perempuan dan yang terakhir adalah laki-laki. Diceritakan bahwa keluarganya mendesak dan menekannya bahwa memiliki anak laki-laki lebih baik daripada anak perempuan. Hal itu berkali-kali membuat sang Ibu sedih dan tertekan.

Perlakuan yang didapat oleh anak yang berbeda gender ini juga berbeda. Anak laki-laki lebih mendapatkan perlakuan istimewa. Tak heran, keluarga mereka menginginkan anak laki-laki yang dianggap tidak akan meninggalkan keluarga setelah menikah.

Pernah suatu hari saat ia SMA, Kim Jiyeong diikuti oleh seorang pria dalam perjalanan pulang setelah bimbel dengan menggunakan bus. Kim Jiyeong ketakutan, ia memberikan kode pada seorang wanita paruh baya yang duduk di depannya untuk memberikannya telepon. Wanita itu meminjamkannya, Kim Jiyeong segera menelepon ayahnya untuk segera menjemputnya di pemberhentian bus. Kim Jiyeong turun, namun ia tidak menemukan ayahnya di sana, pria itu juga ikut turun. Dengan hati yang resah ia berjalan diikuti oleh sang pria. Untungnya, si wania paruh baya tadi turun dengan alasan bahwa barang Kim Jiyeong tertinggal. Sang pria akhirnya pergi meninggal mereka berdua.

Ayah Kim Jiyeong datang dengan napas terengah-engah, ia berterimakasih pada wanita tersebut karena sudah menolong anaknya. Dalam perjalanan pulang, ayah Kim Jiyeong malah menyalahkan putrinya, entah itu karena memakai rok pendek, tempat kursus yang jauh dan berbicara dengan sembarang orang. Untungnya keesokan hari saat Kim Jiyeong menelpon wanita yang membantunya semalam, ia ditenangkan oleh perkataan yang dilontarkan oleh wanita tersebut bahwa ia tidak salah, yang salah adalah mereka.

Meskipun tumbuh di lingkungan yang patriarki, Kim Jiyeong tumbuh sebagai anak yang cerdas dan semangat dalam menggapai tujuannya. Namun, hal itu harus terhenti semenjak Kim Jiyoung memiliki anak, ia harus merelakan karir yang sudah ia perjuangkan bertahun-tahun.

Suatu hari datanglah teman kantor dimana dulu Kim Jiyeong kerja. Ia berkata bahwa di kantor ada masalah yang sedang terjadi. Seorang petugas keamanan menaruh kamera tersembunyi di kamar mandi perempuan. Hal tersebut diketahui berawal dari seorang karyawan pria menemukan gambar wanita yang tidak asing baginya di internet. Namun, bukannya melaporkan pada pihak yang berwajib atau pada korban karyawan-karyawan wantita di sana. Ia malah menyebarkan pada karyawan pria lainnya.

Seorang pria yang memiliki pacar di kantor tersebut meminta pada pacarnyya agar tidak menggunakan kamar mandi yang telah ditaruh kamera tersembunyi. Sang wanita bertanya-tanya dan akhirnya sang pacar memberitahu bahwa ada kamera tersembunyi. Berita tersebut akhirya tersebar.

Mendengar cerita tersebut, sang direktur menyapaikan bahwa jangan membesarkan masalah ini. Karena akan merugikan perusahaan dan karyawan pria yang perlu menafkahi istri dan anak-anaknya. Hal tersebut membuat karyawan wanita banyak merasa sedih dan tertekan sampai harus mengunjungi psikolog. Setiap ada karyawan pria yang melihatnya, mereka akan berpikir apakah orang-orang sudah melihat gambar tersebut, apakah mereka membayangkan gambar tersebut.

Namun, pengorbanannya tersebut malah membuat situasi semakin memburuk. Kim Jiyeong dibicarakan oleh orang kantoran saat di kafe. Kata mereka, ia hanyalah ibu-ibu kafe yang bisanya menghabiskan uang suami dan bersantai. Hal tersebut ia ceritakan pada suaminya dan ia ditenangkan oleh suami yang sangat menyayanginya.

Setelah banyak cuplikan masa lalu patriarki yang dialami Kim Jiyeong, diceritakan bahwa ia bersedia berobat ke psikiater atas saran suaminya.

 

   

 

 

 Novel ini mengangkat isu yang benar-benar sedang terjadi di kehidupan bermasyarakat, apalagi diberikannya data-data konkret pada bagian cerita. Dari diangkatnya isu tersebut tentu bisa membuat banyak orang lebih perhatian lagi akan isu ini. Banyak dari kisah-kisah yang diceritakan membuat pembaca sadar akan perilaku misogini yang merugikan banyak orang.

Penulis menaruh emosi pada kalimatnya, hal ini membuat pembaca bisa merasakan sedih, kesal, marah, dan berpikir akan masalah yang diceritakan. Buku ini tentu bisa menjadi salah satu gerakan emansipasi wanita.

 

    

 

 

 Novel ini merupakan novel terjemahan populer dari Korea Selatan. Bahasa yang digunakan jadi agak sulit dimengerti dan kadang terasa kurang cocok. Menurut saya, bahasa tidak bisa diartikan hanya satu arah. Bisa jadi setiap orang mengartikan suatu kalimat secara berbeda. Mungkin hal itulah yang menjadi kekurang dari novel terjemahan ini.


  

 

 

Novel ini merupakan novel yang bagus karena isu yang diangkat dalam novel tersebut sangat menarik. Penggambaran tokoh Kim Jiyeong serta perisiwa patriarki yang ditulis dalam novel benar-benar membuat pembaca larut akan emosi yang ditulis. Kekurangannya mungkin karena ini merupakan novel terjemahan jadi, pembaca mungkin perlu membaca ulang agar paham akan kalimat yang ditulis. Buku ini cocok untuk remaja hingga dewasa dan tidak dibatasi hanya untuk perempuan saja.

 

  
    Qaulan Sadiida Putri Sumarna
    XI KBC / 05

Komentar

Postingan Populer